Beramal Melebihi Usia Kita

Penguat Diri ke 1

Beramal Melebihi Usia Kita

(Ayah Fawwaz Niyazie)

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radiyaallah ‘anhu, Sesusungguhnya Rasulullah bersabada : “Apabila Manusia meninggal Dunia maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, 1. Shadaqah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfaat, atau 3. Anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim)

Hikmah dari hadis diatas adalah sebagai berikut :

  1. Kepastian dan keniscayaan datangnya kematian semua manusia, umur manusia didunia dibatasi dengan dicabutnya nyawa dari jasadnya baik sekarang, besok, lusa atau akan datang. Tidak mungkin ada yang kekal hidup selamanya.
  2. Kesempatan hidup yang Allah anugerahkan dan sisa umur didunia harus digunakan untuk menyegerakan dan memperbanyak amal sholeh, menganeka ragamkan keta’atan, menguatkan ketakwaan dan upaya kerja keras memperbanyak variasi aktivitas kebaikan agar mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah.
  3. Usia produktif untuk berbuat baik ini sangat pendek dan berlalu begitu cepat super kilat, kalau kita mengambil contoh usia produktif dari usia 23 – 60 tahun, maka hanya ada waktu sekitar 37 tahun. Artinya hanya 50% saja dari keberadaan kita di dunia yang akan kita gunakan untuk mengumpulkan amal sholeh. Belum lagi dari 37 tahun itu terpakai untuk hal-hal lainnya, liburan, tidur, makan, mandi, main-main, dll.
  4. Kesempatan untuk berbuat baik akan tertutup pintunya ketika ajal menjemput kita. Disinilah bermula kecemasan dan rasa was-was apakah cukup bekal dan amal yang kita kumpulkan untuk memulai perjalanan panjang menuju penentuan kehidupan keabadian kita (surga atau neraka).
  5. Orang yang cerdas nan pandai akan melakukan kalkulasi dan perencanaan yang matang penuh strategi untuk memperbanyak amal sebagai bekal nantinya dalam perjalanan panjang diakhirat. Namun sebaliknya orang yang kerdil lagi bodoh akan semaunya sendiri dan masa bodoh dengan amal baik yang pastinya banyak ditinggalkan.
  6. Dari hadis diatas ada tiga hal yang bisa kita jadikan bekal dan teman selama perjalanan akhirat kita meskipun kita sudah meninggal, karena pahalanya terus mengalir kepada kita.  yaitu : shodaqoh, ilmu dan anak sholeh.
  7. Shodaqoh Jariyah adalah menginfaqkan harta benda yang kita miliki untuk di jalan Allah. beberapa penjelasan dalam hal ini adalah :
    1. Tidak menunda dan menunggu untuk memberikan shodaqoh ketika sudah menjadi kaya.  karena memberikan infaq itu sebisa dan semampunya juga sangat bagus.
    2. Meninfaqkan harta banda agar memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengan durasi yang sangat panjang dan lama melebihi usia kita.
    3. Memastikan bahwa apa yang kita berikan ini digunakan untuk menjalankan keta’atan kepada Allah. Bukan sebaliknya. Contoh shodaqoh jariyah adalah sebagai berikut :
    • Wakaf (uang atau bentuk lainnya) untuk pembangunan masjid, mushola, sekolah, pondok pesantren, dan lainnya.
    • Membantu membuatkan rumah untuk orang miskin yang sholeh dan taat.
    • Berdonasi untuk pencetakan Al Qur’an atau buku-buku syariah islam.
    • Membuatkan sumur air untuk sumber kehidupan masyarakat.
    • Menyediakan tempat minum (kulkas, dispenser atau lainnya) dimasjid atau lokasi lainnya untuk digunakan orang dalam keta’atan kepada Alla.
  1. Ilmu yang bermanfaat :
  • Ilmu agama sebagai modal utama harus menjadi prioritas kita dalam proses menimba ilmu. makanya perbanyak ruang dan waktu untuk menyimak, mendengar dan memperdalam ilmu agama. Zaman teknologi ini pintu ilmu terbuka selebar-lebarnya bagi siapa saja.
  • Ilmu secara umum yang menjadi kebutuhan hidup manusia juga masuk dalam bab ini.
  • Mengajarkan ilmu tidak harus menunggu kita mahir pandai dalam bidang terntentu, tapi seketika itu juga bila kita mengetahui ilmu seharusnya kita sampaikan kepada orang lain agar ilmu tadi menjadi bermanfaat.
  • Bagian yang penting juga adalah kita menjadi guru untuk keluarga kita sendiri, terhadap anak, suami/istri, adik/kakak dan lainnya. Kita melakukan pengajaran dan pembinaan kepada meraka agar meraka kelak menjadi orang yang hebat, sholeh, dan sukses.
  • Mengajari anak dan keluarga untuk melaksanakan sholat, membaca Al Fatihah, Bacaan surat-surat pendek, memberikan contoh teladan yang baik kepada meraka. ini juga akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada kita meskipun kita sudah meniggal dunia.
  • Memanfaatkan teknologi dan medsos untuk menyebarluaskan ilmu adalah bagian yang sangat baik dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang akan kita panen ketika kita sudah meninggal.
  • Memfasilitasi kebutuhan operasional orang untuk bisa belajar dan mencukupi kebutuhannya adalah perbuatan yang mulia yang pahalanya terus mengalir kepadanya.
  1. Anak Sholeh yang mendoakan :
  • Inilah pentingnya mendidik anak dan keturunan kita untuk menjadikan mereka anak yang sholeh, baik dan berakhlak mulia. Kita harus bisa memastikan bahwa apa yang selama ini kita berikan harus mengarahkan meraka pada kesholehan.
  • Peran mensholehkan anak/keturunan menjadi tanggung jawab orang tua secara langsung, artinya setiap detik nafas kita harus melakukan pendampingan, pembinaan, dan “pemaksaan” untuk mensukseskan proyek kesholehan anak ini. Jangan mau kalah sama anak menjadi kuncinya.
  • Yang dimaksud anak sholeh pada hadis diatas adalah anak yang beriman, bertakwa, istiqomah, komitmen melaksanakan ajaran islam, rajin beribadah, tidak melakukan kemaksiatan.
  • Makanya upaya dan kerja keras orang tua untuk mensholehkan anak sehingga menjadi anak yang sholeh, akan berbuah pada pahala yang terus mengalir kepadanya meskipun ia sudah wafat.
  • Setiap amal sholeh yang dilakukan anak, secara otomatis akan menjadi anugerah dan karunia untuk kedua orang tuanya secara langsung.
  • Ibadah yang harus senantiasa dilakukan anak secara terus menerus kepada orang tuanya adalah memperbanyak doa berupa permintaan ampunan, rahmat, dijauhkan dari siksa kubur, dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke Surga-Nya.
  • Bagian dari doa anak kepada orang tua yang sudah meninggal adalah menghadiahkan pahala untuk orang tua atas amal sholeh yang dilakukan anak, misal membangun masjid atau sekolah atau lainnya atas nama orang tua, haji atau umroh untuk orang tua, dan lainnya.
  • Kesholehan anak akan mengangkat derajat orang tua di surga kelak, semakin sholeh semakin tinggi surga yang akan ditempati dia dan orang tuanya.
  • Cakupan anak yang dimaksud hadis diatas adalah : anak laki-laki dan perempuan, cucu, anak dari cucu sampai ke bawah. Artinya proyek kesholehan ini harus dipastikan menjadi warisan dan diwariskan ke anak cucu keturunan kita.
  • Diantara cara menuju kesholehan anak adalah sebagai berikut :
    –  Senantiasa mendoakan mereka agar menjadi anak sholeh.
    –  Kita harus bekerja keras untuk mensholehkan diri kita sendiri.
    –  Tingkatkan perbuatan baik kita kepada orang tua kita (birrul wa lidain).
    –  Menikahkan anak dengan orang yang kita yakini kesholeh/annya (prioritas menikah karena agama dan kesholehan calon).
    –  Menciptakan suasana kesholehan dalam rumah tangga, keluarga dan masyarakat.
    –  Menciptakan suasana kesholehan dalam lingkungan sekolah dan bermain untuk anak.
    –  Jangan takut kepada anak untuk mendisiplinkan dan membimbing mereka agar menjadi anak sholeh.