Zubair bin Awwam

Penguat Diri ke 2
Zubair bin Awwam
(Penulis : Muhammad Misbakul Munir)

Silsilah nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Qushoi. Beliau adalah salah satu putra dari bibik Rasulullah yang bernama Shofiyah binti Abdul Mutholib. Ia adalah suami dari Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq.
Masuk islam ketika berusia sekitar 8 tahun. Pamannya sangat marah, kemudian menyiksanya dengan menggulung badannya dengan tikar, lalu dipanaskan dengan api hingga asap tebal memenuhi gulungan tadi, ia hampir meninggal karena sesak nafas, ini semua dilakukan pamannya agar ia kembali kepada kekafiran. Tapi dengan gagah berani ia mengatakan : saya tidak akan kembali kepada kekufuran selama-lamanya.
Zubair adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang menjadi ahli surga, ia adalah salah satu dari enam tim syuro yang bagian dari agendanya adalah memusyawarahkan siapa pengganti kholifah Umar bin Khottob. Ini tentunya karena pengorbanan, keikhlasan, keilmuan dan kematangannya.
Ia adalah orang yang pertama kali dalam sejarah peradaban Islam setelah Rasulullah diutus sebagai Rasulullah menghunuskan pedang demi membela Rasulullah ketika mendengar beliau diisukan wafat. Ia bersumpah akan menghabisi seluruh orang kafir yang ada di Makkah bila berita ini benar. Rasulullah berdoa agar Zubair mendapat kebaikan dan pedangnya mendapatkan kemenangan.  Padahal usianya saat itu baru 12 tahun.
Pemuda yang dengan berani melakukan inisiatif untuk menjadi orang yang akan mencari detail berita raja Najasyi di Habasyah (Ethiopia) sebelum melakukan hijrah ke sana. Ini kira-kira diusianya yang ke 18 tahun.
Ia adalah petarung tangguh, pemberani, penuh strategik peperangan, tidak pernah absen dalam peperangan islam, seorang patriotik sejati, mewakafkan jiwa, raga dan harta untuk agama Allah. Beberapa sejarawan muslim bahkanmengatakan : “Zubair seorang diri bagaikan 1000 pasukan penunggang kuda”.
Dalam perang badar ia berada dibarisan pasukan kuda sebelah kanan, dengan kepiawaian dan ketajaman skill perangnya, ia mampu melumpuhkan dan mematikan lawan (ubaidah bin sa’id) tepat sasaran mengenahi salah satu matanya…padahal dia sudah menggunakan taming dan baju besi serta penutup muka yang hanya terlihat matanya saja.
Momen perang badr inilah malaikat jibril turun ikut berperang dengan menyerupai pakaian yang dipakai Zubair (mantel kuning) untuk membantu pasukan muslim.
Sifat yang sangat melekat pada sahabat ini adalah respontif dan proaktif terhadap seruan Rasulullah, peristiwa perang ahzab menjadi saksi atas kecepatannya merespon panggilan Rasulullah bertanya siapa yang akan memerangi bani Quraidzah, sampai 3 (tiga) kali menyakinkan akan tugas yang akan diemban oleh Zubair…dalam momen inilah ia mendapat gelar kehormatan “sang Pembela Rasulullah (Hawariyu Rasulullah) ”.
Gelar tersebut diberikan Rasulullah kepadanya karena Zubair memberikan ketauladanan yang baik bagaimana seharusnya sahabat mengorbankan jiwa, raga dan harta untuk membela Rasulullah dan agamanya, dan ini adalah buah manis dari keimanan, keikhlasan dan ketakwaannya serta keberaniannya untuk berinisiatif melakukan tugas-tugas dakwah yang sangat berat.
ketika terjadi ekspansi penaklukan Mesir di era Kholifah Umar bin Khotob yang menjadi panglima perangnya adalah Zubair, ada perkataan yang sangat spritual darinya : “saya persembahkan jiwa raga saya untuk Allah dan membela kaum muslimin”. Ini adalah prinsip dan konsep hidup yang menjadi daya gerak kita yang menguatkan dan memberanikan derap langkah mempersembahkan amal terbaik untuk Allah.
Ia termasuk salah satu dari shahabat yang memiliki harta kekayaan yang cukup banyak, tapi kekayaan tersebut tidak masuk kerumahnya, ia dermakan seluruhnya tanpa peduli untuk diri dan keluarganya, bagian dari kedermawanannya juga ia menanggung biaya hidup ahli waris dari beberapa shahabat yang telah syahid.
Kecintaannya kepada para sahabat yang telah gugur syahid, mendorongnya untuk memberikan nama kepada anak-anaknya dengan nama mereka. Dengan harapan besar agar sang anak dapat mengikuti intregritas dan sifat mulia para sahabat yang telah syahid dan mendorong sang anak agar senantiasa siap berjuang untuk menegakkan agama Allah.
Bagian dari pesan beliau adalah : siapa saja yang mampu untuk melakukan amal sholeh secara sembunyi-sembunyi, maka lakukan lah hal demikian sebisa mungkin.
Zubair bin Awwam wafat pada bulan Rajab tahun 36 hijrah pada usia 66 atau 67  tahun, setelah menarik diri dari fitnah jamal ketika ia sedang sholat dibunuh oleh seorang pengkhianat  Amr bin Jurmuz.

 

Referensi :

Siyar A’lamin Nubula, Imam Abu Abdullah Adz Dzahabi.
Al Isti’ab fi Ma’rifatil Ashab, Abu Umar Yusuf bin Muhammad Al Qurthubi.
Rijal Haular Rasul, Syaikh Kholid Muhammad Kholid.
Hayatus Shohabah, Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy.
Fadhoilus Shohabah, Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghofar.
net (makalah Dr. Ali Sholabi)
net (makalah Dr. Amin Asy Syaqowi)
us (makalah Dr. Ali Sholabi)
com (makalah Syirin Ahmad)