Hijrah Happy Ending

Hijrah Happy Ending

Muhammad Misbakul Munir (Ketua STIS Al Wafa)

 

Peristiwa fenomenal hijrah nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah) adalah satu fase sejarah ummat islam yang senantiasa menghiasi kalender kehidupan. peristiwa ini ibarat danau dengan luasan yang tidak terukur untuk kita mendalami guna mengambil inspirasi didalamnya. Namun tidak sedikit yang menjadikan peristiwa besar ini hanya sekedar seremonial atau dogma agama yang lewat begitu saja, hanya dekorasi lahir dan furniture fisik yang membersamai peristiwa ini.

Untuk itu, penulis mengajak pembaca untuk bernostalgia lagi dengan dahsyatnya sejarah ini dengan pendekatan yang lebih religius dan spektrum sudut pandang lebih luas. Adalah surat Muhammad ayat 13 yang menjadi sumber inspirasi bagi penulis untuk menghadirkan pesan-pesan Ilahiyah yang terdapat pada peristiwa hijrah ini. Allah SWT berfirman :

وكأين من قرية هي أشد قوة من قريتك التي أخرجتك أهلكناهم فلا ناصر لهم

Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka (Muhammad : Ayat 13)

Ayat diatas diturunkan untuk menghibur Nabi Muhammad ketika keluar meninggalkan kampung halaman yang sangat beliau cintai, tapi karena perintah Allah untuk berhijrah dengan agenda agama  yang lebih global ia harus keluar darinya. Dengan hiburan bahwa disana masih banyak daerah, kampung, komunitas, sahabat yang jauh lebih hebat, lebih keren, lebih segala-galanya dari pada apa yang ada di Makkah.

Dan, buah manis berupa masa keemasan sebagai  hiburan yang Allah janjikan diperoleh Rasullah dengan capaian yang paling cemerlang yaitu fathu makkah. Dari peristiwa hijrah ini penulis mencoba mengambil beberapa inspirasi yang penting untuk jadikan pakaian jiwa kita sebagai bekal kita berlayar disamudra kehidupan, diantaranya adalah :

  1. الثقة بالله Kekuatan Keyakinan Kita kepada Allah

Ritme perjalan hidup manusia sangat dinamis dan penuh tantangan, gelombang godaan arah negatif juga sangat kuat dan upaya mendemoralisasi manusia sangat masif. Tekanan-tekanan untuk mengikuti hawa nafsu sangat gencar di promosikan agar bani adam jatuh keliang kehinaan. Untuk itulah kita membutuhkan yang namanya sandaran dan pijakan yang kokoh dan kuat. Itu yang penulis definisikan dengan kekuatan keyakinan kita kepada Allah.

Sandarkan diri dan pijakkan langkah kita kepada Allah, murni karena-Nya lah yang akan menopang kekuatan kita untuk melawan segala sesuatu yang menggelayuti kita. Kemalasan, ketakutan, kelalaian, kecerobohan dan sebagainya akan terminimalisir jika full koneksi ini terjaga. Serahkan kepada  Allah dengan cara-Nya mendampingi dan mengawal kita.

Inti dari kekuatan keyakinan kita kepada Allah adalah menumbuhkembangan kedekatan  kita kepada-Nya dengan berbagai cara dan gaya tentunya full selama 24 jam tanpa ada pengkotak-kotakan waktu.

 

  1. Obsesi Kebaikan

Kita harus mendudukkan suasana hati dan perasaan ketika berhadapan dengan perintah dan larangan Allah. Memanej kontruksi berfikir kita akan sesuatu yang dahsyat yang tersembunyi dibalik setiap ketaatan yang kita laksanakan. Berfikir dengan skala sudut pandang lebih komprehensif dan sempurna diluar hitungan matematika ketika menjalankan ketundukan beramal sholeh.

Yakinlah…dengan berobsesi bahwa setiap amal sholeh yang kita lakukan itu adalah perintah dari Allah, maka kita berproses dan berujung pada kebaikan. Bahkan kebaikan itu sendiri sudah menunngu kita.

Coba kita sedikit berimajinasi akan hal ini…”kebaikan menunggu kita” …maka ini hentakan persepsi yang akan meniadakan dan menghilangkan segala bentuk kemalasan, kelesuan, kecapean, penolakan, atau bahkan pembangkangan.

  1. Kolaborasi dan Strategi

Dua inspirasi diatas adalah masuk domain hati dan pikiran kita dan juga sebagai motivasi yang tidak kasat mata. Untuk inspirasi yang ketiga lebih dominan tentang action dan cara menggapai cita atau asa dari kita.

Berkolaborasi artinya mengumpulkan segala yang baik dan excellent yang ada diluar dari kita untuk kita kombinasikan menjadi modal perjalan dan nutrisi pelayaran kita. Belajar dari strategi yang sangat matang dan cermat yang dilakukan Rasulullah yang selama kurang lebih 14 hari perjalanan hijrah, serta model kolaborasi untuk menyatukan unsur-unsur kekuatan yang dimiliki masing-masing personal saat itu.

Artinya adalah diperlukan kolaborasi dan strategi untuk menjadikan kita mampu bertahan menghadapi badai tantangan dan godaan. Dua hal ini yang akan membantu menguatkan pundak kita agar kokoh menopang dentuman rudal kemalasan.

Semoga seklumit catatan ini bisa menjadi setrum energi kita. amiinn